Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara menghitung Current Ratio, Quick Ratio, dan Cash Ratio

Current Ratio

Salah satu cara untuk mengukur likuiditas sebuah perusahaan selama 12 bulan ke depan adalah dengan menggunakan current ratio. Rasio ini menghitung berapa kali perusahaan dapat melunasi liabilitas lancarnya dengan menggunakan aset lancarnya. Seperti ini cara menghitungnya:

Current Ratio = Aset lancar/ Liabilitas lancar

Dan seperti ini cara menggunakannya:

1. Temukan aset lancar dan liabilitas lancar di neraca.
2. Bagilah aset lancar dengan Liabilitas lancar untuk mendapatkan Current Ratio atau rasio lancar.

Jadi jika sebuah perusahaan memiliki aset lancar dua kali lebih banyak daripada liabilitas lancarnya, maka perusahaan tersebut akan memiliki rasio lancar sebesar 2.0. Jika sebuah perusahaan memiliki aset lancar setengah dari jumlah liabilitas lancarnya, maka rasio lancarnya akan menjadi 0,5. Karena rasio lancar mencakup persediaan selain bentuk aset lancar lainnya, rasio lancar yang rendah dapat menunjukkan antara perusahaan tersebut berisiko atau sangat baik dalam mengelola inventory yang rendah (yang mana baik untuk menekan biaya). Dengan kata lain, saat Anda menganalisa suatu perusahaan, Anda harus memiliki konteks agar rasio ini benar-benar berguna.


Quick Ratio

Beberapa perusahaan yang menjual barang yang sangat besar atau mahal mengalami kesulitan dalam menjual persediaan. Untuk melihat apakah perusahaan-perusahaan tersebut dapat melunasi utangnya dalam satu tahun ke depan, Anda dapat menggunakan metrik yang disebut Quick Ratio. Quick Ratio menggunakan semua aset lancar kecuali inventory dan kemudian dibagi dengan kewajiban lancar, Seperti ini cara menghitungnya:

Quick Ratio = (Current Assets - Inventory) / Current Liabilities

Ikuti langkah-langkah berikut untuk menggunakan rumus diatas:

1. Temukan Aset lancar  dan Inventory di bagian aset neraca dan kewajiban lancar di bagian kewajiban.
2. Kurangi Aset lancar dengan Inventory.
3. Bagilah jawaban dari Langkah 2 dengan nilai kewajiban lancar untuk mendapatkan Quick Ratio.

Rasio ini menunjukkan berapa kali perusahaan dapat melunasi hutang yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan dengan menggunakan aset lancar selain persediaan. Karena nilai ini tidak termasuk persediaan, maka nilainya akan lebih kecil dari rasio lancar, tetapi tetap penting untuk dipertimbangkan karena ini menunjukkan apakah perusahaan memiliki cukup cash dan aset lainnya untuk segera diubah menjadi uang tunai untuk melunasi hutang dan menghindari kebangkrutan. Meskipun demikian, quick ratio yang rendah dapat berarti perusahaan tersebut berisiko, atau dapat diartikan bahwa perusahaan tersebut sangat efektif dalam mengelola piutang usahanya dengan cara menagihnya dengan sangat cepat. 

Cash Ratio

Rasio paling efektif untuk mengukur likuiditas perusahaan menurut saya adalah rasio kas. Rasio ini hanya menggunakan aset perusahaan yang paling likuid yaitu "kas dan setara kas" untuk menghitung berapa kali perusahaan dapat melunasi kewajibannya selama 1 tahun ke depan. Untuk perusahaan yang memiliki piutang sangat tinggi, baik karena mereka menjual barang mahal yang mengakibatkan pelanggan melakukan pembayaran jangka panjang atau karena mereka menghasilkan banyak hutang yang buruk, rasio ini sering kali menjadi rasio favorit bagi para investor untuk mengukur likuiditas perusahaan. Berikut cara menghitungnya:

Untuk menggunakan persamaan ini, ikuti langkah-langkah berikut:

Cash Ratio = Kas & Setara Kas / Liabilitas Lancar

1. Temukan kas dan setara kas di bagian aset neraca dan kewajiban lancar di bagian kewajiban.
2. Bagi Kas dan setara kas dengan kewajiban lancar.

Ini adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas perusahaan yang paling konservatif, jadi jika cash rationya tinggi, bisa dikatakan bahwa risiko kebangkrutan perusahaan sangat rendah.